TUYlGpdlGpC5TpM8BUWoTfMlGi==

Rahasia Dibalik Kemenangan Ganda Golkar 2024

 


Pemilih Golkar yang mendukung calon presiden yang diusung tidak pernah mencapai 54 persen. Namun, pada Pilpres 2024, pemilih Golkar yang mendukung Prabowo-Gibran mencapai angka 70 persen.

Pesta demokrasi Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden pada 14 Februari 2024 lalu berlangsung lancar, aman, dan damai. Meski perhitungan real count KPU belum tuntas, namun berdasarkan quick count, Partai Golkar boleh mendeklarasikan diri sebagai ‘pemenang’ Pemilu 2024. Di satu sisi, sukses ‘memimpin’ Koalisi Besar memenangkan paslon 02 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. 

Di sisi lain, sukses menjadi ‘pemenang kedua’ Pileg (hasil sementara) dengan perolehan suara yang signifikan: naik 3 sampai 3,5 persen dibandingkan Pileg 2019.

Hasil perhitungan cepat atau quick count dari berbagai lembaga kredibel menunjukkan, perolehan suara Partai Golkar rata-rata mencapai antara 14,7 – 15,8% dan menduduki peringkat kedua. Hanya kalah 1 sampai 1,5% di bawah PDIP yang memperoleh suara antara 16,4 – 17,2%.

Misalnya, hitung cepat versi Politika Research & Consulting (PRC) menyebut Partai Golkar mencapai 15,41 persen. Poltracking mencatat 16,49 persen. 

Hitung cepat Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan Partai Golkar meraih 14,93 persen suara. Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyebut 14,54 persen. Indikator Politik Indonesia menyatakan 16,77 persen. Voxpol Center Research and Consulting mencatat 14,86 persen. Litbang Kompas menunjukkan Partai Golkar meraup 14,66 persen suara.

Hasil perhitungan quick count sejumlah lembaga survei itu nyaris tak berbeda dengan hasil rekapitulasi real count sementara KPU yang dipublikasikan di website KPU hingga Sabtu (3/3/2024) pukul 12.47 Wib. 

Tercatat, dari 65,74% suara nasional yang masuk, Partai Golkar bertengger di posisi kedua dengan mengantongi 11. 557.459 suara, unggul 1,34 juta suara dari Gerindra (10.209.342 suara) dan hanya kalah 1 juta suara dari PDIP di posisi pertama (12.583.459 suara).  

Jika total suara itu dikonversi menjadi kursi DPR RI, maka Partai Golkar hampir dipastikan meraih lebih dari 100 kursi. Perhitungan sementara internal, Partai Golkar saat ini sudah meraih 102 kursi. 

Dan dengan penyebaran suara yang merata di seluruh Dapil se-Indonesia, saya meyakini, Partai Golkar masih bisa meraih 6 sampai 9 kursi tambahan lagi dari sejumlah Dapil.

Jika merujuk hasil hitung cepat dan tren hasil rekapitulasi perhitungan real count KPU, maka perolehan suara Partai Golkar melesat cukup signifikan dibandingkan saat Pemilu 2019, di mana ketika itu Partai Golkar hanya meraih 12,31 persen suara. Kenaikan sekitar 3,5 persen (versi quick count) di Pileg 2024 adalah raihan tertinggi dibandingkan partai-partai lain.

Pencapaian ini tentu cukup spektakuler dan mengejutkan banyak pihak. Selain melebihi target yang telah dicanangkan, keberhasilan di Pileg 2024 ini telah mengembalikan masa kejayaan Partai Golkar seperti di era Akbar Tandjung 2004. Fenomena menarik lainnya terjadi di level Pilpres. 

Selama Pilpres 2009, Pilpres 2014, dan Pilpres 2019, pemilih Golkar yang mendukung calon presiden yang diusung tidak pernah mencapai 54 persen. Namun, pada Pilpres 2024, pemilih Golkar yang mendukung Prabowo-Gibran mencapai angka 70 persen.

Tak heran, banyak pengamat dan analis politik yang mengupas fenomena Partai Golkar ini ‘ganda’ Partai Golkar di Pileg dan Pilpres 2024 merupakan akumulasi beberapa faktor dengan beragam variabel. 

Jadi, bukan faktor tunggal. Namun harus diakui, faktor kuncinya terletak pada karakter kepemimpinan Ketua Umum Airlangga Hartarto yang visioner, transformatif, efektif, fleksibel, konsisten, dan taktis. Karakter dan gaya kepemimpinan Airlangga Hartarto bisa dilihat dari beberapa keputusan strategis dan langkah taktis berikut.

Faktor Pertama, keputusan strategis Partai Golkar yang berkomitmen mendukung penuh pemerintahan Presiden Joko Widodo – Maruf Amin. 

Bahkan, melalui Munaslub dan Rapimnas tahun 2016, Partai Golkar menjadi partai pertama yang dengan tegas sejak awal mencalonkan Jokowi untuk Pilpres 2019. Keputusan itu berdasarkan berbagai pertimbangan ideologis, strategis, dan kalkulasi politik yang matang.

Secara filosofis-ideologis, keputusan mendukung pemerintahan Jokowi – Jusuf Kalla saat itu bermakna bahwa Partai Golkar mempertahankan jatidirinya: lahir untuk berkarya nyata bagi rakyat dan negara di bawah naungan Pancasila. 

Sedangkan keputusan mengusung Jokowi sebagai capres di Pilpres 2019 adalah ‘jalan ideologi’ Partai Golkar untuk mewujudkan Visi Negara Kesejahteraan 2045, sejalan dengan Nawacita Jokowi menuju Indonesia Emas 2045. Dari kalkulasi politik tahun 2016 itu, Golkar mencermati bahwa dalam 3-5 tahun ke depan, tidak ada kader Golkar yang mampu menandingi popularitas dan elektabilitas Jokowi.

Keputusan strategis Partai Golkar tahun 2016 berlanjut di era kepemimpinan Airlangga Hartarto pasca Pilpres 2019. Di satu sisi, dengan menjadi bagian dari Pemerintah, Partai Golkar mempunyai ruang untuk berkarya nyata bagi masyarakat dan negara sesuai jatidirinya ‘karya-kekaryaan’. 

Di sisi lain, komitmen kuat dan dukungan penuh Partai Golkar membuat Presiden Jokowi merasa nyaman berjalan bersama Golkar. Tak heran kalau publik melihat Presiden Jokowi terkesan lebih dekat dan mesrah dengan Partai Golkar.

Jadi, efek ekor jas Presiden Jokowi buat Partai Golkar sudah bekerja sejak tahun 2016 dan berbuah pada Pileg dan Pilpres 2019. Selain berhasil memenangkan Jokowi-Maruf Amin di Pilpres 2019.

Partai Golkar juga menduduki posisi kedua Pileg saat itu dengan perolehan 12,51 persen suara, padahal Golkar baru saja lepas dari konflik berkepanjangan selama 1,5 tahun. Di Pilpres dan Pileg 2024, asosiasi Golkar – Jokowi semakin menguat yang terbukti dari kenaikan suara Pileg lebih dari 15 persen, selain memenangkan paslon Prabowo-Gibran (hasil sementara).

Faktor kedua, kerja cerdas dan taktis Airlangga Hartarto sejak awal kepemimpinannya dalam merangkul dan mensolidkan berbagai kekuatan internal partai dan mengkonsolidasikan organisasi atau mesin partai dari pusat hingga daerah. 

Termasuk menyiapkan secara terencana dan terukur sejak awal kader-kader potensial untuk bertarung di Pileg, Pilpres, dan Pilkada. 

Dan untuk menjawab tuntutan zaman, banyak kader muda potensial dipromosikan duduk di struktur elit partai maupun bacaleg, bacagub, bacabub/bacawalkot, baik yang maju di Pileg 2019 dan Pilkada serentak 2020 maupun di Pileg dan Pilkada 2024. Bahkan, beberapa kader muda Golkar duduk di kabinet Indonesia Maju.

Yang tidak kalah penting, Keputusan Rapimnas Partai Golkar tahun 2019 yang sejak dini mencalonkan Airlangga Hartarto sebagai capres di Pilpres 2024, setelah Jokowi tidak bisa maju lagi. 

Meski dalam perjalannya diwarnai dinamika internal dan akhirnya gagal, namun pencalonan dan perjuangan gigih hingga detik-detik terakhir untuk meloloskan Airlangga Hartarto menjadi capres atau cawapres justru menjadi media ‘kampanye’ yang efektif bagi Golkar selama 4 tahun. Sebab tanpa disadari, selama 4 tahun itu, Airlangga Hartarto dan Golkar terus menjadi.

Penulis,
Prof. Dr. Nurdin Halid, SE
(Wakil Ketua Umum Partai Golkar)


Komentar0

Type above and press Enter to search.